Ibadah | Kerja | Makan | Ngeblog

Proses Pengukuran Bidang Tanah Untuk PTSL

A. Persiapan Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah 
Berikut persiapan pengukuran dan Pemetaan bidang tanah meliputi:

1) Inventarisasi TDT atau Base Station
Inventarisasi sebaran Titik Dasar Teknik (TDT) atau base station sebagai titik pengikatan dilakukan apabila petugas ukur akan menggunakan metode pengamatan satelit dengan menggunakan sistem CORS (Continuously Operating Reference Stations). Fungsi CORS ini nantinya dapat digunakan untuk memetakan bidang tanah menggunakan metode RTK ( Real Time Kinematic). Bagi yang belum tahu mengenai RTK system silahkan baca tentang penentuan posisi menggunakan GPS.

Gambar 1. Contoh BM untuk base station
(Sumber : http://srgi.big.go.id)

2) Inventarisasi bidang tanah terdaftar dan belum terdaftar
Untuk menghindari terjadinya salah ukur pada lahan yang sudah ber-sertipikat tentunya data pendukung bidang tanah yang terdaftar dan yang belum terdaftar sangatlah penting. Pada bidang tanah yang belum terdaftar apabila akan dilakukan pengukuran haruslah jelas ada dalam daftar entri (tentunya juga sudah lengkap dalam pemberkasan) sehingga bidang yang diukur sudah sesuai dengan identitas pemohon dan jumlah pemohon yang ada dalam data entri.

3) Koordinasi dan sosialisasi dengan instansi lain, perangkat desa, dan masyarakat
Sebelum dilakukannya pengukuran tentunya harus ada koordinasi terlebih dahulu pada pihak-pihak yang terlibat terlebih lagi dengan perangkat desa dan masyarakat. Misalnya dari tim pengukur memberitahu kepada perangkat desa bahwa akan dilakukan pengukuran, setelah itu perangkat desa membentuk panitia pengukuran dan mengumumkan kepada masyarakat. Selain itu tim pengukur juga mensosialisasikan tentang teknis pekerjaannya kepada panitia tersebut agar tidak terjadi miss komunikasi ketika panitia mengantarkan tim ukur ke bidang yang akan diukur.

4) Inventarisasi ketersediaan data pendukung
Contoh data pendukung adalah data citra satelit atau foto udara pada wilayah kerja sehingga memudahkan dalam melakukan pemetaan. 

5) Penyiapan peralatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah
Petalatan pengukuran adalah senjata dalam menghasilkan peta bidang. Peralatan pengukuran dapat berupa meteran, GPS untuk RTK system, Total Station, atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

 Gambar 2. Macam-macam alat ukur
(Sumber: www.gpsalatsurvey.com)

6) Penyediaan peta kerja
Penyediaan peta kerja digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengukuran, dalam peta kerja tersebut dapat diketahui batas-batas desa, jalan, sungai, dan batas bidang yang sudah dan belum tersertifikat.

B. Pemasangan Tanda Batas Bidang Tanah 
  1. Tanda batas dapat berupa titik/patok batas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (PMNA/KaBPN) Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah atau dapat berupa pematang sawah, pematang tambak atau tanda batas lainnya yang dapat diidentifikasi dilapangan dan di peta.
  2. Pemasangan tanda batas dilakukan oleh pemilik tanah atau kuasanya. Pemilik tanah wajib bertanggung jawab atas kebenaran pemasangan tanda batas dan penunjukan batas bidang tanahnya. 
  3. Dalam rangka percepatan, pemasangan tanda batas dan surat penyataan telah memasang tanda batas dilaksanakan sebelum satgas fisik melaksanakan pengukuran dan pemetaan.
C. Penunjukan Tanda Batas Bidang Tanah
  1. Penunjukan tanda batas bidang tanah dilakukan oleh pemilik tanah/kuasanya. 
  2. Dalam hal pengukuran dan pemetaan bidang tanah sistematis lengkap, penunjukan batas dapat diwakili oleh perangkat desa/kelurahan/kampung atau ketua RT, RW, kepala dusun atau nama lainnya
D. Penetapan Batas Bidang Tanah 
Penetapan batas bidang tanah dalam rangka Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap dilaksanakan bersamaan pada saat penunjukan batas oleh pemilik tanah/kuasanya.

E. Pelaksanaan Pengukuran Bidang Tanah 
Pelaksanaan pengukuran bidang tanah, terdiri dari pengukuran bidang bidang tanah yang belum terdaftar maupun bidang-bidang tanah yang telah terdaftar. 

Metode Pelaksanaan Kegiatan Pengukuran dan pemetaan bidang tanah sistematis lengkap yaitu : 
1) Metode Terestrial 
Pengukuran bidang tanah dengan metode terestrial adalah pengukuran secara langsung di lapangan dengan cara mengambil data ukuran sudut dan jarak, yang dikerjakan dengan teknik-teknik pengambilan data trilaterasi (jarak), triangulasi (sudut) atau triangulaterasi (sudut dan jarak) dengan menggunakan alat pita ukur, distometer, teodolit, dan elektronik total station.  
2) Metode Fotogrametris
Metode fotogrametris merupakan salah satu metode pengukuran yang dapat mendukung percepatan pendaftaran tanah sistematis lengkap. Pengukuran bidang tanah dengan metode fotogrametris mengikuti ketentuan sebagai berikut :
  • Pengukuran dilakukan dengan cara melakukan identifikasi batas bidang-bidang tanah dengan menggunakan peta foto atau peta garis hasil fotogrametris dan menarik garis ukur (deliniasi) untuk batas bidang tanah yang jelas dan memenuhi syarat. Metode ini hanya dapat dilaksanakan untuk daerah terbuka, non-pemukiman, non-komersial, non-industri. Untuk garis batas bidang tanah yang tidak dapat diidentifikasi dilakukan dengan pengukuran tambahan di lapangan (suplesi). 
  • Pengukuran terestris dilaksanakan sebagai pengukuran suplesi dan/atau pengukuran panjangan sisi bidang tanah sebanyak :
     - Minimal 1 (satu) sisi bidang tanah untuk pekerjaan dengan skala
        peta kerja paling kecil 1 : 2.500  atau lebih besar (misal : skala
        1 : 2.500, skala 1 : 1.000, skala 1 : 500, dsb.) 
     - Semua sisi bidang tanah untuk pekerjaan dengan skala peta kerja
        lebih kecil  dari 1 : 2.500 (misal : skala 1 : 3.000, skala 1 : 5.000, dsb.)
  • Apabila dalam pengukuran bidang tanah ditemukan adanya bidang-bidang tanah yang sudah terdaftar dan belum terpetakan, maka bidang-bidang tersebut dipetakan pada Peta Dasar Pendaftaran.
  • Untuk bidang tanah yang sudah terdaftar dan sudah terpetakan pada peta dasar pendaftaran, cukup diverifikasi dilapangan sebagai kegiatan peningkatan kualitas data pertanahan.
  • Peta dasar yang digunakan harus memuat informasi : 
         - Sumber data
         - Proyeksi Peta
         - Coordinate Reference Frame yang digunakan
         - Waktu perekaman
         - Metode pengukuran bidang tanah, dll.

3) Metode Pengamatan Satelit
Pengukuran bidang tanah dengan metode pengamatan satelit adalah pengukuran dengan menggunakan sinyal-sinyal gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari minimal 4 satelit menggunakan alat GPS geodetik. Pengukuran bidang tanah dengan GPS dapat dilakukan dengan metode Real Time Kinematik (RTK)/CORS, Post Processing, Point Precisse Positioning (PPP) maupun Stop and Go. 

4) Metode Kombinasi
Metode Kombinasi terestrial, fotogrametris, dan/atau pengamatan satelit Pengukuran bidang tanah yang merupakan perpaduan dari pengukuran terestris, fotogrametris dan/atau pengamatan satelit.


Daftar Pustaka :
Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan, 2016, Petunjuk Teknis Pengukuran Dan Pemetaan Bidang Tanah  Sistematik Lengkap, Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional.






Labels: Survei dan Pemetaan

Thanks for reading Proses Pengukuran Bidang Tanah Untuk PTSL. Please share...!

0 Comment for "Proses Pengukuran Bidang Tanah Untuk PTSL"

Back To Top